ENDOHEVEA: Mengimunisasi Tanaman Karet

Jamur akar putih, salah satu penyakit penting pada tanaman karet, yang mnimbulkan kerugian ekonomis tinggi. Penyakit yang disebabkan cendawan Rigidoporus lignosus ini dapat merusak akar tanaman. Pada serangan berat, akar tanaman membusuk sehingga tanaman mudah tumbang dan mati. Kematian tanaman sering mnular ke tanaman lain. Penularan cendawan biasanya melalui kontak akar tanaman sehat dengan tanaman yang sakit.

Menurut Dr. Chairil Anwar, M.Sc., Direktur Pusat Penelitian Karet, jamur akar putih ini termasuk penyakit utama pada karet. Penyakit ini dapat menyerang tanaman karet hampir pada semua stadia pertumbuhan, mulai dari pembibitan, tanaman belum menghasilkan (biasanya berumur 1-5 tahun) sampai tanaman menghasilkan (berumur diatas 5 tahun).
Pencegahan dan pengendalian penyakit ini, menurut Cici Indriani Dalemunthe dan Zaida Fairuzah, keduanya dari Balai Penelitian Sungei Putih, Galang, Deli Serdang, Sumatera Utara, dapat dilakukan secara kimiawi maupun secara biologi. Secara biologi, untuk pencegahan dan pengendalian penyakit ini dapat memanfaatkan Trichoderma sp., musuh alami cendawan itu.

Kedua peneliti tersebut menguji endohevea, pupuk hayati endofit dan biofungisida khusus tanaman karet. Probiotik khusus tanaman karet yang diproduksi dan dipasarkan PT Prima Agro Tech ini mengandung 18-20 x 108 sampai dengan 109 cfu yang terdiri dari cendawan Trichoderma sp. dan bakteri endofit: genus Klebsiella sp., Azospirillum lipoferum, dan Bacillus sp., yang menambat nitrogen (N) dan melepaskan fitohormon Indole Acetic Acid (IAA). Selain itu, mengandung bakteri Pseudomonas sp, yang bisa melarutkan fosfor (P).

Diameter Bertambah
Berdasarkan penelitian, kandungan bakteri di dalam Endohevea dapat meningkatkan pertumbuhan diameter batang karet secara signifikan dengan dosis pupuk yang sama untuk masing-masing perlakuan, disbanding control (tanaman yang tidak mendapat perlakuan Endohevea). Selain itu, Endohevea efekif untuk mencegah  dan menyembuhkan serangan cendawan akar putih, baik pada uji coba di laboratorium, rumah kaca, maupun di lapangan.

Di tingkat petani atau pekebun karet, menurut Erwin Haryanto, Manajer Pengembangan Bisnis PT Prima Agro Tech, untuk imunisasi atau prventif, penggunaan Endohevea ini dapat dilakukan pada stadia pembibitan. Caranya, satu tablet efervesen Endohevea direndam sekitar 12 jam dalam lima liter air untuk mengaktifkan mikroba yang selama dalam bentuk tablet mengalami dorma (mati suri). Larutan itu lantas disemprotkan atau disiramkan di sekuliling perakaran. Setiap tablet digunakan untuk 10-20 polibag bibit.

Pada pembibitan ini, aplikasinya dilakukan satu kali. Sedangkan pada tanaman belum menghasilkan (TBM), aplikasi sekali setahun. Satu tablet dilarutkan ke dalam 50 ml air selama 3-12 jam. Kemudian diencerkan kedalam 10 liter air. Satu tablet ini dapat digunakan untuk 4-5 tanaman karet. Jika populasi karet sekitar 500 batang/hektar, berarti dibutuhkan sekitar 100 tablet. Dengan harga Rp5000/tablet, total biayanya Rp500 ribu.Sedangkan pada tanaman menghasilkan, proses pelarutan dan pengenceran sama seperti TBM. Pada tanaman terinfeksi jamur akar putih, frekuensi penggunaan setiap tiga bulan. Satu tablet bisa digunakan untuk 1-2 tanaman. Jika 5% dari populasi karet yang terserang jamur akar putih, diperlukan sekitar 13 tablet/3 bulan/ha atau setara Rp65 ribu.

Jadi menurut Erwin, Endohevea ini dapat digunakan untuk imunisasi (preventif) maupun pengobatan (kuratif) terhadap jamur akar putih pada karet. “Begitu terlihat terkena jamur akar putih, bisa lngsung dikasih (Endohevea),” terang Erwin. Selain itu, karena mengandung bakteri penambat N, pelarut P, dan penghasil fitohormon IAA, Endohevea ini juga bisa meningkatkan pertumbuhan tanaman karet.

404