BactoPLUS Seri Padi: Edisi Trubus 515 – Oktober 2012/XLIII

Semula hanya lima rumpun padi yang terserang tungro di sawah milik Usman Suparman. Petani di Desa Bojongherang, Kecamatan Cianjur, Provinsi Jawa Barat, itu mencabut rumpun berdaun kuning dan membakarnya. Tujuannya agar tak menyebar ke tanaman lain. Namun, apa lacur penyakit akibat virus itu kembali menyerang rumpun lain. Usman kembali mencabut dan membakarnya. Kejadian itu beberapa kali terulang.

Hanya berjarak 5 meter dari sawah pertama itu, Usman juga menanam padi di sawah kedua. Waktu tanam dan varietas juga sama. Namun, di sawah kedua tanaman anggota famili Poaceae itu lebih tahan dari serangan tungro. Ada tanaman yang terserang memang, tetapi Usmn membiarkannya. Ia sengaja tak mencabut padi terserang untuk melihat dampak penyebaran ke tanaman sehat. Namun, serangan tak meluas dan Usman akhirnya dapat panen ketika padi di sawah kedua berumur 119 hari.

Bakteri baik
Padi-padi di sawah kedua Usman lebih tahan serangn tungro. Padahal, saat itu serangn virus itu meluas di sekitar lahannya. Menurut Usman ketahanan tanaman itu setelah ia beberapa kali memberikan pupuk hayati. Pertama, sebelum menyemai, petani 67 tahun itu merndam benih dalam larutan pupuk hayati. Ia tinggal melarutkan  1 tablet probiotik dalam 2 liter air selama dua hari.

Setelah itu ia meniriskan dan menyemai benih di Loyang plastic berukuran 30 cm x 30 cm setinggi 5 cm dengan media tanah dan pupuk kandang berasio 1:1. Pada hari ke-9, saat bibit tumbuh setinggi 15 cm, ia memindahkan ke lahan. Lazimnya, petani menanam bibit berumur 30 hari, saat tingginya 40 cm. pemberian kedua, saat kerabat jagung itu berumur 30 hari.

Usman kembali melarutkan pupuk hayati berbentuk tablet. Ia melarutkan 2 tablet probiotik endofit dalam 150 ml air, lalu mendiamkan dalam wadah terbuka. Sedang 12 jam, ia menambahkan air sampai volume menjadi 14 liter, kemudian memasukkan ke tabung semprot. Untuk lahan 800 m^2, ia meghabiskan satu tabung semprot setara 2 tablet berukuran setara koin ratusan. Penyemprotan hanya satu kali selama masa tanam.

Perlakuan seperti itu tak ia terapkan pada sawah pertama yang akhirnya terserang tungro. Ia memang tengah menguji kemampuan pupuk hayati yang disebut-sebut meningkatkan kekebalan tanaman. Pupuk hayti dalam tablet itu sebetulnya berisi bakteri baik seperti Acinetobacter sp, Azosprillum brasilense, Azotobacter chroococcum, Bacillus endophiticus, dan Klebsiella sp.

Menurut Ir Gunawan Sutio, direktur pemasaran PT Prima Agro Tech, bakteri-bakteri itu menunjang pertumbuhan padi. Ia mencontohkan Azotobacter chroococcum yang berfungsi menambat unsur nitrogen dari udara atau Pseudomonas sp yang melarutkan fosfat. “Bakteri-bakteri itu mampu hidup dalam jaringan padi tanpa menimbulkan efek buruk, sebaliknya justru mampu menghasilkan hormone pertumbuhan seperti IAA (indole actic acid) alias auksin,” tutur Gunawan.

Itulah sebabnya Usman menyemprotkan larutan bakteri itu pada pukul 07.00 saat matahari belum terik. “Yang disemprotkan pada tanaman adalah agen hayati, jadi bila diaplikasikan lebih dari jam 08.00 ketika sinar matahari mulai terik dikhawatirkan bakteri akan mati,” tutur Usman. Dengan cara menyemprotkan bakteri-bakteri itulah padi di sawah Usman tak rentan terserang penyakit.

Terbukti
Bukan hanya Usman yang membuktikan keampuhan bakteri itu. Ir Rohman Abdurohman dari Perkampungan Organik Gasol, Kabupaten Cianjur, melakukan percobaan 2 varietas mirip cara Usman masing-masing di lahan 1500 m². Setelah merendam bibit mrnggunakan probiotik endofit itu pertumbuhan bibit lebih seragam. Selain itu daya kecambah 90%, biasanya 75%.

Petani lain, Arif, di Desa Cikondang, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, menggunakan pupuk hayati itu pada padi ciherang. Hasilnya produktivitas meningkat. Ia menuai 690 kg gabah kering per 700 m², di lahan lain seluas 910 m² tanpa aplikasi pupuk hayati, 500 kg. Arif menuturkan pada padi dengan pemberian probiotik endofit rata-rata muncul 27 anakan, sedangkan pada apdi tanpa perlakuan, 19 anakan.

Mengetahui manfaat pupuk hayati itu, banyak petani seperti Usman berencana memperluas penanaman hingga 2 ha. Bagaimana duduk perkara pupuk hayati meningkatkan kekebalan tanaman? Menurut Kepala Instalasi Pengamatan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman, Dinas Pertanian Tanaman Pangan  Provinsi Jawa Barat, Ir Budi Utoyo, sampai saat ini belum ada bahan hayati atau kimia yang sanggup memberantas tungro.

Untuk menanggulangi serangan virus berbentuk batang rice tungro bailliform virus (RTBV) hanya dengan menyehatan tanaman. “Kecukupan hara mikro maupun makro membuat tanaman sehat dan tidak mudah terserang penyakit,” tutur Budi. Itu sejalan dengan hasil riset Dr Sarlan abdulrachman, peneliti di Balai Peneliti Tanaman Padi, Subang, Jawa Barat. Sarlan membuktikan, probiotik endofit mengefektifkan penyerapan pupuk.

Akibatnya kebutuhan pupuk NPK anorganik pun terpangkas hingga 25% pada budidaya konvensional. Para petani di Cianjur menerapkan budidaya organic sehingga tak memerlukan pupuk anorganik sama sekali. Selain itu pupuk hayati meningkatkan imunitas tanaman sehingga efektif mengontrol bacterial leaf blight alias penyakit hawar daun. Itu terbukti di lahan Usman, yang hanya diberi sepertiga jumlah pupuk kandang atau 200 kg.

Spesifik
Menurut Dr Wiwik Eko Widayati, peneliti di Pusat Penelitian Gula Indonesia, Pasuruan, Jawa Timur, setiap pupuk hayati mestinya spesifik untuk tanaman tertentu. Musababnya, tidaka ada bakteri yang mampu hidup dalam semua jaringan berbagai jenis tanaman. Artinya, bakteri yang cocok untuk suatu jenis tanaman belum tentu cocok untuk tanaman lain.

“Tanpa kecocokan antara bakteri dan tanaman, salah satu akan kalah sehingga pada akhirnya tidak membantu pertumbuhan tanaman,” tutur Wiwik. Jika bakteri lebih kuat, pertumbuhan tanaman justru terganggu. Setiap bakteri, entah baik maupun jahat, bisa masuk ke jaringan epidermis di semua organ tanaman. Bila yang lebih dahulu masuk ke jaringan tanaman bakteri baik, mereka akan bekerja sama.

“Misalnya bakteri penambat nitrogen memerlukan energy untuk bisa menambat nitrogen di udara, energy itu diperolehnya dari tanaman. Setelah nitrogen itu tertambat selanjutnya akan digunakan tanaman untuk metabolism,” tutur Prof Abdul Karim, periset padi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor, Jawa Barat. Saat kerja sama terjalin, bakteri baik menciptakan lingkungan yang menghambat pertumbuhan bakteri atau virus jahat. Itu yang terjadi di sawah Usman, tungro pun menjauh. (Muhamad Khais Prayoga)

404